Microvascular Decompression Sembuhkan "wajah Tidak Simetris"

Gejala spasme atau kejang spontan pada separuh wajah yang tidak bisa dikendalikan dan terus menerus secara bersamaan dari otot-otot wajah memang mengganggu. Tak jarang hal tersebut membuat penderitanya merasa malu bersosialisasi karena muka mereka tidak lagi simetris. Seiring majunya bidang kedokteran, saat ini gangguan yang disebut hemifacial spasm, dapat disembuhkan menggunakan teknik mikroskop khusus melalui microsurgery atau bedah saraf mikro.“Jika penyebab Hemifacial Spasm-nya karena tekanan pembuluh darah mikro yang menekan saraf no. 7 pada otak, maka penyembuhannya bisa menggunakan teknik Microvaskular Decompression,” ujar dr. M. Sofyanto, SpBS, Spesialis Bedah Syaraf dari Surabaya.Sebelum operasi, pasien akan dianestesi (dibius) untuk menghilangkan rasa sakit dan cemas pada pasien. Selain itu, anestesi juga berguna untuk mengatur dan mempertahankan otak agar tetap lunak dan tidak tegang. Dengan begitu mudah untuk menjangkau di kedalaman tertentu di bagian otak, khususnya saraf facial (muka) yang merupakan target operasi.Sebelum anestesi, dilakukan pemeriksaan laboratorium, rekam jejak dan foto dada untuk mengetahui kondisi pasien. Pasien mesti puasa 8 jam, meski masih boleh minum air putih secukupnya.Selama operasi, semua indikator fungsi tubuh pasien akan terus dipantau, melalui monitor pemantau. Dengan mikroskop khusus yang dapat menjangkau sampai kedalaman tertentu dalam rongga kepala dan alat-alat monitor dalam kamar operasi. “Setelah sedikit kepala dibuka, lalu dicari saraf no. 7 yang tertekan. Setelah ketemu saraf yang dimaksud, lalu dipisahkan menggunakan telfon yang berkaki,” terang Sofyan.Setelah berhasil melepaskan saraf yang tertekan, kepala kembali ditutup, dijahit serta ditambah lem yang khusus bagi manusia. “Jadi tidak akan copot,” guraunya.Segera setelah operasi selesai, pasien langsung dibangunkan. Selanjutnya pasien akan diobervasi di ruang intensif, karena operasi ini kadang menyisakan rasa pusing dan atau mual.Menurut Sofyan, setelah melakukan operasi, pasien akan terbebas dari penyakit muka menceng. Namun tidak menutup kemungkinan penyakit tersebut kembali, dan pasien harus menjalani operasi ulang. “Tapi itu sangat jarang,” ujarnyaKompas.com

Gejala spasme atau kejang spontan pada separuh wajah yang tidak bisa dikendalikan dan terus menerus secara bersamaan dari otot-otot wajah memang mengganggu. Tak jarang hal tersebut membuat penderitanya merasa malu bersosialisasi karena muka mereka tidak lagi simetris. Seiring majunya bidang kedokteran, saat ini gangguan yang disebut hemifacial spasm, dapat disembuhkan menggunakan teknik mikroskop khusus melalui microsurgery atau bedah saraf mikro.

“Jika penyebab Hemifacial Spasm-nya karena tekanan pembuluh darah mikro yang menekan saraf no. 7 pada otak, maka penyembuhannya bisa menggunakan teknik Microvaskular Decompression,” ujar dr. M. Sofyanto, SpBS, Spesialis Bedah Syaraf dari Surabaya.

Sebelum operasi, pasien akan dianestesi (dibius) untuk menghilangkan rasa sakit dan cemas pada pasien. Selain itu, anestesi juga berguna untuk mengatur dan mempertahankan otak agar tetap lunak dan tidak tegang. Dengan begitu mudah untuk menjangkau di kedalaman tertentu di bagian otak, khususnya saraf facial (muka) yang merupakan target operasi.

Sebelum anestesi, dilakukan pemeriksaan laboratorium, rekam jejak dan foto dada untuk mengetahui kondisi pasien. Pasien mesti puasa 8 jam, meski masih boleh minum air putih secukupnya.

Selama operasi, semua indikator fungsi tubuh pasien akan terus dipantau, melalui monitor pemantau. Dengan mikroskop khusus yang dapat menjangkau sampai kedalaman tertentu dalam rongga kepala dan alat-alat monitor dalam kamar operasi.

 “Setelah sedikit kepala dibuka, lalu dicari saraf no. 7 yang tertekan. Setelah ketemu saraf yang dimaksud, lalu dipisahkan menggunakan telfon yang berkaki,” terang Sofyan.

Setelah berhasil melepaskan saraf yang tertekan, kepala kembali ditutup, dijahit serta ditambah lem yang khusus bagi manusia. “Jadi tidak akan copot,” guraunya.

Segera setelah operasi selesai, pasien langsung dibangunkan. Selanjutnya pasien akan diobervasi di ruang intensif, karena operasi ini kadang menyisakan rasa pusing dan atau mual.

Menurut Sofyan, setelah melakukan operasi, pasien akan terbebas dari penyakit muka menceng. Namun tidak menutup kemungkinan penyakit tersebut kembali, dan pasien harus menjalani operasi ulang. “Tapi itu sangat jarang,” ujarnya

Source: Kompas.com
Make Appointment